Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

“Kalau lo ngerelain Rajata buat Resita, kenapa lo nggak sama Daka?” Sufi bertanya dengan satu alis terangkat, salah satu gesture yang selalu terlihat ketika lelaki itu penasaran. “Dari dulu juga orang-orang ngeliatnya lo itu serasi sama Daka. Kan lumayan tuh, dari sahabatan jadi double date.

“Ya kali,” decih Padma sambil memutar kedua bola matanya. “Nggak segampang itu, Sufi Wijaya.”

“Emangnya lo udah move on?

“Ya… Udahlah.”

“Udah usaha tapi susah lupa, maksud lo?” cibir Sufi yang sudah sangat mengenal Padma sejak beberapa tahun yang lalu.

Dua tahun yang lalu, ia yang sedang mengajar murid-muridnya di kelas teater dikejutkan dengan kedatangan Padma yang tanpa aba-aba. Belum lagi Padma memintanya untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang keberadaannya. Jadilah ia seperti menampung tuna wisma dan tuna hati sekaligus. Kadang, ia sampai tak tega melihat Padma menangis diam-diam sambil menatap ponselnya. Menatap foto sahabat yang ia tinggalkan begitu saja di Indonesia.

Tapi Padma adalah orang yang sangat keras kepala. Karena dua minggu yang lalu undangan pernikahan Rajata dan Resita sampai untuk Sufilah, mereka kini dalam perjalanan ke Indonesia. Itupun terjadi setelah Padma menghilang dua hari hanya untuk memikirkan keputusannya ikut dengan Sufi.

Time heals the pain, Fi. Udah deh, males bahasnya.”

Sufi berdecak ketika Padma langsung berdiri dari kursinya, meninggalkannya. Ia pun meninggalkan cangkir kopinya yang masih terisi setengah, menyusul perempuan yang jauh-jauh kabur ke Jerman hanya untuk menyembuhkan hatinya.

“Emang sih waktu bisa nyembuhin luka, tapi sampai kapan ngandelin sang waktu? Kenapa lo nggak bener-bener usaha sendiri tanpa nunggu hari penyembuhan lo tiba?

***

From: DakaW@brighttech.com

To: PadmaP@live.com

Subject: You are invited

Ini e-mail yang entah lo baca atau nggak. Kalaupun e-mail ini masih lo aktifin, gue yakin notif dari gue udah lebih dari 300.

Besok, sahabat kita, Rajata dan Resita, bakal nikah. Undangan lo dikirim ke rumah lo. Entah kapan lo pulang, yang pasti, kita berharap lo dateng.

Padma, bukannya gue nyuruh lo dateng buat ngerasain sakit (yang mungkin masih ada? Dunno, semoga udah nggak ada) ketika ngeliat dua sahabat kita nikah. Apalagi Rajata adalah orang yang lo sayang lebih dari sekedar sahabat.

Kita cuma pengen lo ada. Tapi kita, lebih pengen lo bahagia.

Jadi, kalau lo masih belum bisa untuk dateng, kita nggak maksa.

Cuma satu hal yang mesti lo tau, semuanya beda tanpa lo di sini.

Gue masih sering keluar malem buat nyari lo, Ma. Siapa tau gue nemuin lo di Sarinah lagi ngopi-ngopi cantik (istilah aneh dari Resita) di Starbucks. Atau gue nemuin lo lagi nonton di KoKas. Atau minimal gue nemuin lo lagi dugem atau sekedar nemenin temen seleb lo di Dragonfly. Atau lagi ikut after party dari launching film temen-temen lo.

Masih banyak what if yang mampir di kepala gue. Makanya selama dua tahun ini gue selalu nyusup di after party dari launcing film-film se-Indo ini. Sampai kadang gue jengah pas digodain melulu sama MUA yang melambai abis itu. Gila, dia bilang, dia mau make up-in gue jadi pengantinnya dia! Ya ampun, siapa yang jadi cewek dan cowoknya kalau gue nikah sama dia?

Hiiiih.

Lo di mana sih, Ma? Di Jogja nggak ada, Anyer nggak ada, Padang nggak ada, Bali apa lagi. Rasanya gue pengen ngajuin cuti selama setahun kalau perlu buat travelling keliling Indonesia biar bisa nemuin lo. Gue obrak-abrik ini Indonesia, biar semua orang mulai notice kalau ada cowok nyaris gila yang nyariin Padma Paramita sampai segitunya.

Gue cuma takut lo kenapa-napa. Lo hilang gitu aja, nelepon orangtua lo pake private number.

Please, pulang ketika lo udah kangen sama gue, Rajata, atau Resita ya?

Gue selalu nunggu elo. Selalu, Ma.

Regards,

Daka Wirata.

Bright Tech Indonesia.

Sudirman Central Business District, Jakarta.

***

Padma berusaha menghapus airmatanya dengan cepat. Namun percuma, karena airmata yang lainnya ikut menyusul jatuh ketika ia selesai membaca e-mail sahabatnya tersebut.

“Lo kenapa?” Sufi yang baru saja duduk di kursi sebelahnya menoleh heran. “Lo nangis?”

“Gue nggak apa-apa kok.”

“Lo bisa akting bagus banget sampai dapet piala Citra, tapi jangan bohongin anak teater yang jadi temen lo selama empat tahun di kampus, Ma.”

Padma tersenyum, sedikit merasa bersalah karena lagi-lagi ke-gap berbohong mengenai perasaannya. Namun Sufi tidak menekannya lagi. Lelaki itu hanya menepuk puncak kepala Padma dengan pelan. “Matiin handphone lo, Ma. Bentar lagi take off.

Padma menuruti kata-kata Sufi. “Kayaknya sampai di Soetta butuh kacamata nih gue, mata gue cepet banget bengkak kalau nangis dikit.”

“Dan lo butuh helm saat lo nangis seminggu nggak berhenti waktu dulu itu.”

Keduanya tertawa ketika mengingat dua tahun lalu. Dalam hatinya Padma mendesah pelan, betapa cepat waktu berlalu…

***

23:40

24-12-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s