Kala Desember

Trying to forget someone you love is like trying to remember someone you never met.

***

Aku terlalu terkejut ketika jantung ini masih melonjak keras saat bertemu pandang lagi denganmu.

“Apa kabar?” tanyamu seraya menarik kursi di hadapanku dan duduk tenang di sana.

Aku hanya tersenyum, memainkan jemariku di tepian mulut cangkir sambil menjawab pelan, “Seburuk saat aku bertemu denganmu kembali.”

Namun kamu hanya tertawa, mungkin kamu menganggapnya hanya lelucon? Ah, andaikan kamu tau, itu bukan lelucon sama sekali. Hariku jadi berubah buruk saat bertemu denganmu kembali. Lebih tepatnya, saat kamu menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Seketika itu juga, banjir kenangan langsung kualami begitu saja.

“Aku senang kau terlihat sehat.”

“Aku tak terlalu senang mendapatimu kembali di hadapanku. Jadi sekarang katakan, apa yang membuatmu mengajakku bertemu?”

“Aku hanya ingin bertemu denganmu. Tidak boleh? Atau ada yang melarang?”

“Satu-satunya orang yang melarangku bertemu denganmu adalah ibuku sendiri.”

Kamu terkekeh pelan, aku berdecak kesal. Kenapa kalimat itu yang keluar?

“Sebentar lagi tahun baru, kan?” tanyamu seraya memanggil pelayan. Pelayan kedai kopi ini mendekat, lalu kamu mengatakan pesananmu padanya dengan lugas tanpa melihat buku menu. Setelah pelayan itu pergi, barulah atensimu kembali padaku. “Apa yang akan kau lakukan di malam tahun baru ini?”

Aku mengedikkan bahu. “Hanya menyusun resolusi untuk tahun depan dan merenungi apa saja yang telah kulakukan di tahun ini.”

“Apa kau sering merenungi tentang kita?”

Aku terdiam, tidak menyangka kalau pertanyaan itu akan muncul dari bibir tipismu. “Tak taukah kau tidak pernah ada kita di antara kau dan aku? Jangan pura-pura bodoh.”

Lantas, senyum yang sejak tadi kamu pamerkan perlahan luruh. Hei, kamu tau aku tidak sebodoh itu. Sejak kapan kamu suka tersenyum? Bahkan dulu aku sampai bertengkar dengan temanku hanya karena aku melihat bibirmu terangkat sedikit dan menamainya senyum, sedangkan temanku berkata itu bukan senyum.

Astaga, apa yang kupikirkan barusan? Aku baru saja membuka kotak kenangan yang telah usang itu.

“Bagaimana hidupmu?” tanyaku, berusaha mengalihkan pikiranku dari segala macam kenangan yang mulai muncul kembali. “Lama tak bertemu. Pekerjaanmu benar-benar menyita waktu, kurasa.”

“Begitulah.” Kamu tersenyum. “Aku mau bertanya satu hal padamu, bolehkah?”

“Tanya saja, kenapa harus meminta izin?”

Satu hal yang kupelajari, ketika seseorang ingin bertanya namun meminta izin terlbih dahulu, ia pasti ingin menanyakan hal yang tak ingin dijawab.

“Apa kau masih menyayangiku?”

Hampir saja aku tersedak. Aku hanya menatapmu datar. Oh Tuhan, kenapa laki-laki diciptakan mayoritas seperti ini? Terlalu lugas, kurang peka, dan semaunya.

“Tidak lagi.”

“Baguslah.”

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

Kamu terlihat berpikir sejenak, lalu menggeleng. Belum sempat kamu bicara lagi, ponselmu berbunyi. Kamu langsung menerima pangggilan tersebut. Sorot matamu langsung berubah, bersinar. Aku belum pernah melihat sorot itu—oh, aku lupa.

Aku pernah. Aku pernah melihatnya, saat duniamu terpusat pada dia.

“Aku harus pergi,” katamu sambil meletakkan uang di atas meja untuk minuman yang bahkan belum sampai di hadapanmu. “Maaf, aku harus menemui dia. Hati-hati ya.”

“Ya, hati-hati juga untukmu.”

“Jangan lupa untuk melangkah ke depan. Tak ada gunanya kau terus menungguku.”

Aku tersenyum meremehkan saat kamu mengatakan hal paling irasional tersebut. Setelah mengacak rambutku, kamu pergi begitu saja sambil bersiul.

Tubuhku langsung lemas di kursiku begitu kulihat mobilmu keluar dari area parkir kedai.

Aku tak menyayanginya lagi. Aku tak menunggunya lagi.

Itu hal yang kucoba untuk kuyakinkan pada diriku sendiri. Sudah berlalu banyak bulan Desember setelah aku mengenalmu dan kamu yang berlalu pergi begitu saja dariku. Hanya satu Desember yang kita lalui bersama, itupun tanpa ada kejelasan di antara kita. Setelah itu, kamu pergi begitu saja.

Aku tau kamu melihat semuanya dengan jelas di mataku. Namun yang kamu katakan pertama kali saat itu bukanlah “Maaf, aku tak punya perasaan yang sama denganmu”, tapi yang kamu katakan adalah “Kau terlalu baik untukku. Tapi maaf, aku masih menunggu dia”.

Berhakkah kamu memintaku untuk tak menunggumu lagi?

Aku berusaha untuk menutup semua lembaran yang pernah ada namamu terukir di sana. Namun ternyata, satu angin yang bertiup sedang bernama pertemuan, tak mampu menutup lembaran itu untuk selamanya.

Aku menatap hampa pada kopimu yang baru saja tiba di atas meja. Uapnya mengepul, memancarkan hangat yang menjamin di kala hujan 31 Desember.

Sudah berapa banyak bulan Desember yang kita lalui?

Sudah berapa banyak bulan Desember yang kulalui hanya untuk mengenangmu dalam tetes hujan?

Sudah berapa banyak bulan Desember aku menjadi orang bodoh?

Dengan cepat aku mengetikkan pesan untukmu sebelum aku beranjak dari kedai tersebut.

Kau tau, kadang kebohongan adalah perisai paling ampuh untuk orang yang sok tegar sepertiku. Tolong, jangan tanyai aku tentang perasaanku lagi, jika itu hanya ingin membuatmu tenang dan membuatku terluka diam-diam.

Dari aku, perempuan Desember-mu.

***

11:54

31-12-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s