Dari Aku, Pengagummu

Hai

Aku tak pandai berbasa-basi untuk sekadar menyapa.

Namun yang kutau adalah, judul surat ini sangatlah menggelikan.

Tapi biarlah. Karena sesuatu yang tidak enak didengar atau tidak enak dilihat biasanya akan hilang tanpa jejak di rekam memori orang lain.

Kalau kau membaca surat ini, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Tapi jangan sampai kau membaca surat ini. Aku malu. Siapa aku sampai dengan lancangnya mengirim surat padamu?

Aku hanya pengagummu dari jauh. Mengagumi setiap gerak dan kata darimu. Dalam diam, aku mengagumimu.

Ketika orang-orang mengatakan bahwa aku harus mengungkap jati diriku padamu, aku menolak. Untuk apa? Mempermalukan diriku hingga aku enggan untuk bertemu muka denganmu?

Tidak. Lebih baik kita bertemu dalam kenyamanan pertemanan, dibanding saling menghindar karena kecanggungan. Aku tak ingin sebuah surat konyol justru menghancurkan pertemanan di antara kita.

Iya, kita teman. Dan mungkin akan begitu terus selamanya.

Aku pengagum misteriusmu. Mengagumi tanpa ada suara yang keluar dari bibirku. Mungkin terkesan sok misterius. Tapi tak apa. Apa pun kesannya, aku biarkan saja. Semoga aku bukan pengagum yang mengganggumu.

Lalu, untuk apa ya aku membuat surat ini?

Hm, mungkin untuk menyalurkan kegilaan yang belakangan ini bercokol di dalam benakku.

Aku adalah orang yang selama beberapa tahun ini dinilai ‘terlalu mandiri’ oleh banyak orang, hanya karena kesendirianku. Kau tak perlu tau, bagaimana raut wajah mereka saat kukatakan; “Aku menyukai seseorang”.

Kebanyakan dari mereka justru tersenyum lebar dan matanya menatapku seakan-akan aku tak pernah menyukai satu saja lelaki selama ini. Sial, aku ingin mengatakan pada mereka, bahwa kesendirianku bukan karena hal itu.

Aku sendiri ya karena aku sendiri. Mereka tak pernah tau, seringkali aku berharap punya seseorang yang mau menemaniku kala aku merasa sendiri. Mereka tak pernah tau, seringkali aku berharap punya seseorang yang mau memberiku kejutan kecil yang sederhana. Mereka tak pernah tau, seringkali aku berharap punya seseorang yang mau menghabiskan satu harinya denganku hanya untuk membaca buku bersama dalam hening.

Mereka tak pernah tau. Begitu pun dengan kau.

Tapi tak apa, ini resikoku ketika aku mengagumimu diam-diam. Aku hanya ingin mengagumimu dari sudut ini. Menjadi orang yang tersenyum kalau kau tersenyum bahagia.

Namun, lewat surat ini aku katakan padamu, aku bukan orang baik tapi juga tak mau jadi munafik. Aku ingin kau kenal dan kau ajak bicara kapan pun itu. Aku ingin, kau berbagi senyummu denganku. Aku ingin … setidaknya kau sudi untuk membagikan ceritamu untuk kudengar.

Walaupun aku tau kau tak akan bisa menyukaiku—seperti aku menyukaimu—tapi, sekali saja, aku ingin jadi teman baikmu. Walaupun harus kusembunyikan kekagumanku jauh-jauh agar kau tak menganggapku menyebalkan.

Sampai sini saja suratku. Semoga kau tak membacanya—ha, mana mungkin kau membacanya!

Teruntuk Tuan A

Dari Pengagummu—yang entah kau ingat atau tidak.

27-04-2015

21:41

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s