Pernahkah Kau Terpikir Untuk Mencintaiku?

Kepadamu, Tuan A, aku ingin bertanya satu hal saja.

Pernahkah kau terpikir untuk mencintaiku?

Pasti tidak.

Bagaimana bisa kau terpikir untuk mencintaiku, kau bahkan belum mengenalku dengan baik.

Selintas tadi, aku tiba-tiba memikirkanmu. Sedang apa kau saat ini? Kau hanya berdiam diri di rumah atau pergi keluar? Bagaimana keadaanmu?

Tapi jadi diriku adalah hal yang sulit. Setidaknya itu yang aku pikirkan, pasti kau dan yang lainnya tak akan punya pendapat yang sama denganku.

Menjadi diriku adalah hal yang sulit. Kau tahu kenapa?

Karena semakin hari, aku makin menyukaimu seolah hal itu adalah benar adanya. Satu sisi hatiku (yang bagiannya lebih kecil hingga suaranya seringkali kuabaikan) berkata bahwa hal itu adalah salah. Aku tak bisa membiarkan diriku makin menyukaimu dengan peluang makin besar untuk bertepuk sebelah tangan.

Aku sudah berpengalaman dalam urusan perasaan. Satu kali bersambut, seringkali diabaikan.

Aku mudah mencintai orang, tapi tak mudah untuk melupakannya.

Orang-orang tak mudah untuk menyukaiku–apalagi untuk mencintaiku.

Aku tahu kau berbeda dengan orang lain (makanya aku menyukaimu). Tapi bukan berarti kau dapat menyukaiku dengan mudah.

Kata orang, aku sering terlalu negatif pada diri sendiri. Berpendapat bahwa tak ada orang yang bisa mencintaiku melebihi–atau sekadar menyamai–perasaanku pada orang yang kucintai.

Aku sudah punya banyak pengalaman patah hati. Tapi Tuan A, bukan berarti aku siap untuk patah hati lagi (dan berkali-kali).

Aku tak pernah siap untuk jatuh cinta dan patah hati. Seperti halnya aku tak pernah bisa memilih pada siapa aku akan jatuh cinta.

Mungkin aku memang tak cocok denganmu. Aku terlalu pesimis pada hal yang bahkan belum terlihat dengan jelas. Tapi itulah aku, si penakut yang pada akhirnya terpaksa berani untuk jatuh cinta padamu.

Tuan A, jika suatu hari nanti kau terpikir untuk mencintaiku, tolong ya beritahu aku. Biarkan aku tahu, setidaknya di muka bumi ini ada yang bisa mencintai aku–aku yang bukan apa-apa.

Kalau kau membaca surat ini, terima kasih. Aku tak pernah terpikir untuk mengirimimu surat secara rutin. Kadang kau muncul saja di kepalaku dan membuatku jadi gila seperti ini.

Tapi kumohon, jangan baca surat ini. Aku malu. Hahaha.

Teruntuk Tuan A,

Dari orang yang menyukaimu–yang bertanya apakah kau pernah terpikir untuk mencintaiku atau tidak.

03-05-2015

22:35

Advertisements

2 thoughts on “Pernahkah Kau Terpikir Untuk Mencintaiku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s