Di antara “Yang kita bisa” dan “Yang kita mau”.

 

Tuan A, terima kasih kau sudah membaca surat ini.

Rasanya ingin kutebar ranjau di sekelilingmu agar tidak membaca surat ini. Surat ini memalukan.

Dan tujuan kubuat surat ini bukan untuk kaubaca diam-diam atau agar kau sadar akan kehadiranku.

Surat ini murni hanya demi memenuhi keinginanku menulis dengan bebas, tanpa dikekang oleh tenggat waktu atau tuntutan apa pun.

Tuan A, sungguh, aku tak berharap kau membaca surat ini.

Maukah kau berbaik hati untuk meninggalkan laman ini dengan damai tanpa membaca lebih lanjut?

Tentu kau takkan mau.

Baiklah, aku memang tak bisa seenaknya menyuruhmu ini dan itu. Siapalah aku? Hanya seorang perempuan yang seringkali terlalu terbawa perasaan.

Kau tahu, Tuan A, kemarin aku terlibat perbincangan dengan rekanku. Mengenai apa yang kita bisa dan apa yang kita mau di dalam hidup ini.

Lalu aku menyadarkannya (mungkin juga menyadarkan diriku sendiri), bahwa “Yang kita bisa” tidak melulu berdampingan dengan “Yang kita mau”.

Misalnya begini; Yang aku mau adalah menghabiskan satu hari penuh denganmu. Melakukan hal-hal kesukaan kita atau bertukar cerita sampai-sampai aku tak bisa bicara apa pun lagi. Tapi, yang aku bisa hanya menatap namamu di dalam daftar teman sosial mediaku tanpa melakukan apa pun.

Kira-kira seperti itu. Apa kau mengerti, Tuan A?

Kalau tidak, tidak usah kaupikirkan hal itu dengan serius. Aku tak bermaksud menambah daftar hal-hal yang harus kaupikirkan.

Tuan A, seringkali aku ingin bertanya, apa yang kau mau dalam hidup ini? Apa yang kau bisa lakukan selama ini?

Aku juga seringkali bertanya pada diriku sendiri dengan pertanyaan serupa. Sulit untuk menjabarkan jawabannya di sini. Tapi setidaknya, aku tahu apa jawabannya.

***

Tuan A, aku juga ingin bertanya padamu.

Untuk apa kau baca surat ini? Apa hanya karena satu huruf yang kusebut lalu kau merasa terpanggil?

Kau sekadar iseng atau memang benar-benar merasa?

Aku tak bisa menebaknya. Padahal kata teman-temanku, aku lebih pandai dalam menghapal, menyusun, dan menebak.

Satu-satunya hal yang tak bisa kutebak adalah perasaan dari orang yang kusukai.

Sampai saat ini aku masih berpikir negatif tentang perasaanku padamu. Bukan, yang salah bukan dirimu. Tapi hanya aku yang masih takut untuk kecewa.

Sebut aku pecundang, tapi toh aku tetap manusia yang berhak merasa kecewa, bukan?

Namun teman-temanku bilang, tak baik kecewa sebelum tahu kenyataannya.

Aku sering bilang pada mereka, pengalaman yang mengajariku. Dari pengalaman, berpikir positif dalam otakku (mengenai masalah perasaan, itu saja) ujung-ujungnya hanya membawa kekecewaan yang lebih menyakitkan, dibanding ketika aku memikirkan hal-hal terburuknya.

Kalau aku (mencoba) berpikir positif, nantinya akan lebih kecewa ketika mengetahui satu saja fakta menyakitkan.

Jadi, aku membentengi hatiku dengan semua hal-hal yang mungkin berbanding terbalik dengan rasa bahagia.

Baikkah itu untukku, Tuan A?

Teruntuk Tuan A,

 

Dari orang yang menyukaimu—dan masih berusaha untuk tidak dibaca suratnya olehmu.

22:39

05-05-2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s