Ketika Kau Membenci Yang Seharusnya Kau Cintai

 

Ada hal-hal di dunia ini yang tak berjalan sesuai fungsinya.

Aku mempunyainya. Aku mempunyai sesuatu yang tak berperan sebagaimana harusnya.

Sebelum aku menceritakannya di sini, kuberitahu, aku sudah dapat izin untuk setidaknya membagi luka yang kupendam bertahun-tahun ini. Bukan apa-apa, hanya ingin berbagi agar kau bisa bersyukur dengan apa yang kau punya.

Kata orang, kau harus mengetahui kemalangan seseorang agar kau tahu kalau yang kau punya sudah lebih dari cukup. Manusia itu kadang lupa untuk bersyukur, maka dari itu ada orang-orang yang diberi kemalangan untuk menyadarkan mereka yang lupa.

Aku tak tahu bisa menyebut ini sebagai kemalangan atau apa. Tapi yang pasti, ini bukan sebuah hal yang bisa disambut dengan sukacita.

Hari ini rasanya sedikit melelahkan secara emosional. Ada beberapa hal yang mengusikku. Urusan denganmu, salah satunya. Namun aku tak mempermasalahkannya—kecuali kau tiba-tiba menghubungiku lagi lalu menghilang setelah kau mendapatkan keinginanmu.

Sudah kusebutkan sesuatu yang tak berperan sebagaimana mestinya, kan? Mungkin harus kuralat, yang benar adalah seseorang. Sebut saja dia.

Aku telah kehilangan dia sebelum aku mengerti apa makna kehilangan. Bukan hanya aku yang kehilangan, tapi orang-orang di sekelilingku yang juga mencintainya.

Saat itu aku tak mengerti apa-apa. Yang kutahu, ia jarang menemuiku dan orang-orang yang tahu kisah tentang kepergian dia menatapku dengan pandangan yang tidak sepenuhnya aku sukai. Aku tak tahu penyebabnya pergi, saat itu. Yang kutahu, orang dewasa di sekitarku hanya menepuk kepalaku dan mendoakanku jadi anak baik.

Aku tak tahu definisi anak baik itu seperti apa. Ketika TK sampai SD, aku ditegur Mama karena aku terlalu penutup. Aku menyimpan semua luka sendiri. Ketika aku terjatuh—dan aku sangat sering terjatuh—hingga menyebabkan tubuhku terluka, aku hanya diam.

Begitu pun ketika orang-orang di sekitarku menanyakan kehadiran dia, aku hanya bisa diam. Tidak bisa menjawab. Ketika mereka menatapku dengan kasihan, kusimpan luka itu sendiri. Bertahun-tahun lamanya.

Aku tak berani membagi kesedihan. Harus membaginya kepada siapa? Caranya bagaimana?

Di saat-saat emosiku jatuh ke jurang paling dalam, aku menangis dalam diam. Menelan isakku sendiri. Mempertanyakan kepada Tuhan, kenapa dia seenaknya datang dan pergi begitu saja? Kenapa dia datang hanya ketika butuh sesuatu? Ke mana dia ketika aku butuh dijemput? Ketika aku butuh dia….

Tapi hidup mengajariku banyak hal. Salah satunya adalah kita tak usah lagi mempertanyakan dia yang tak mungkin lagi kembali dengan utuh kepada kita.

Aku menghabiskan tahun demi tahun masa kecilku hanya untuk bertanya dan mengutuk. Sekeras apa pun aku berdoa agar dia kembali, dia tak pernah kembali. Dia hanya singgah. Bagi dia, kami hanya tempatnya singgah menuju tempat lain.

Kau mungkin takkan tahu rasanya, tapi setidaknya aku senang, karena kau tak memiliki sosok seperti dia di sekitarmu. Mungkin. Aku tak tahu juga.

Saat aku jadi remaja yang mulai mandiri, aku akhirnya membuka diri. Memupus jarak pada mereka yang memang tulus ingin bersamaku. Mengabaikan fakta bahwa aku tumbuh tanpa satu penopang yang harusnya ada di dalam hidupku.

Tapi hidup harus berjalan, dengan atau tanpa dia.

Namun absennya dia di dalam hidupku membuat sebuah ketakutan yang makin hari makin jadi.

Mungkin aku picik, tapi mungkin rasa takut ini ‘wajar’ ada di diriku. Aku tak pernah bisa terlalu percaya dengan komitmen. Tapi anehnya, aku masih bisa mencintai seseorang.

Tapi seakan mengejekku, aku tak pernah mendapatkan hati seseorang dengan utuh.

Selalu, selalu aku menyukai seseorang yang hatinya masih terpaut pada perempuan lain. Dan kehadiranku, nyatanya hanya mampu mengisi setengah ruang hatinya.

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, seseorang mengatakan, “Saya sayang sama kamu, tapi saya juga sayang sama dia. Andai kamu datang lebih cepat di kehidupan saya daripada dia, mungkin kamu yang saya pilih.”

Saat itu aku ingin menangis. Aku tahu, seandainya hanyalah harapan yang kau sendiri tahu bahwa itu takkan mungkin terjadi. Kalau aku datang lebih dulu daripada perempuan yang ia cintai, bukan jaminan bahwa ia akan mencintaiku seperti aku yang mencintainya.

Satu kali. Lalu selanjutnya aku tak lagi menghitung berapa kali aku harus terjebak pada lingkaran yang sama. Aku menyukai seseorang, namun seseorang itu masih mengharapkan perempuan masa lalunya.

Menurutmu, apa aku masih kuat untuk menghadapi situasi yang sama?

Aku pernah berjuang dengan sangat keras, tapi pada akhirnya aku sadar, kini bukan saatnya lagi aku berjuang sekeras itu. Aku hanya takut kecewanya sama besarnya dengan usahaku selama ini.

Kukira aku tak akan mengalami situasi serupa. Tapi sekarang, aku harus menghadapi kenyataan bahwa mungkin situasinya sama dengan dua tahun yang lalu.

Kau tahu, ketiadaan dia dalam hidupku berpengaruh besar tanpa aku kehendaki. Dia membuatku percaya bahwa perpisahan benar-benar bisa terjadi pada siapa saja. Dia membuatku membangun bentengku sendiri tanpa kusadari.

Jika kau tanya tentang perasaanku padanya, akan kujawab dengan cepat, aku membencinya. Aku membencinya karena absennya dia di dalam hidupku. Aku membencinya karena dia meninggalkan semua yang menyayanginya dan membuat dunianya sendiri—di mana aku bukan salah satu hal yang dibutuhkannya.

Rasanya sulit memang untuk membenci orang yang harusnya kucinta. Tapi lebih sulit lagi untuk memaafkan semua yang telah diperbuatnya. Mungkin aku butuh waktu, mungkin aku butuh seumur hidupku hanya untuk berdamai dengan masa lalu yang terlalu pahit itu.

Aku tak tahu kenapa menulis kisah sampah ini sambil teringat padamu. Mungkin jauh di dalam hatiku, aku berharap kau tak akan menjelma seperti dia. Kuharap begitu, kau lebih baik darinya.

Dua hari yang lalu aku melakukan hal paling konyol seumur hidupku, aku menangis. Terisak diam-diam di tengah malam hanya karena sebuah kenangan lama, milikmu.

Aku bukan orang yang mudah menangis. Sampai-sampai hampir setiap orang menyebutku berhati dingin. Tapi ketika aku mengetahui bagaimana caramu mencintai perempuan itu, ada rasa nyeri yang entah bagaimana caranya bisa muncul di dalam diriku.

Aku pernah menulis sebuah kisah, di mana seorang perempuan mencintai seorang lelaki karena cara lelaki itu mencintai perempuan masa lalunya.

Sepertinya aku mulai merasakannya sekarang. Entah kau masih mencintainya atau tidak, tapi aku kini tahu bagaimana kau rela jatuh hanya demi dia.252307_2545885981935_305075218_n_large

Jika kali ini aku akan berputar di lingkaran yang sama dengan sebelumnya, biarlah. Jika kau belum bisa melangkah ke depan karena masih terikat masa lalumu, aku bisa apa? Kuharap kau tahu apa yang terbaik untukmu.

Mengenang masa lalu tidak salah, tapi bisa jadi kesalahan kalau kita hidup hanya berpegangan pada masa lalu.

Melangkah majulah, dengan atau tanpaku. Karena aku dan kau sebenarnya sama-sama tahu, kau pasti bisa melangkah maju tanpa menarik masa lalu untuk terus mengikutimu.

Dari aku, perempuan yang dengan sok tahunya mengajarimu tentang melangkah maju tapi masih terjebak di luka masa lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s