Derai Air yang Mengabarkan Kematian

Rain-Scene-On-Bulbs.jpg

 

Hujan mengabarkan kematian

Yang jadi saksi adalah tanah yang terempas air hujan

Bau tanah mengabarkan ke semua daratan

Bahwa ada jiwa yang pergi tak tahu ke mana

Siapa yang tahu tujuan roh selanjutnya ke mana

Siapa yang tahu kapan derai air mengabarkan kematian

Awan kelam jadi pertanda

Bau tanah jadi pelengkap

Sesungguhnya tak ada yang abadi di dunia

Derai air yang mengabarkan kematian

Bukan hanya hujan yang sudi untuk berkabar

Tangis di pelupuk mata Bunda jadi si pembawa kabar

Bahwa Ayah telah sudi meninggalkan keluarganya.

Bogor, 6 Maret 2016.

Advertisements

Ketika kau dikecewakan oleh harapanmu sendiri, tenanglah, Sayang.

Kau tak sendirian.

Ada aku, yang diam di sudut sambil mengharapkanmu untuk berbalik, kepadaku.

How do I know I have fallen in love

Siang sampai sore ini, gue akhirnya membagikan rahasia yang hanya diketahui oleh dua orang selain diri gue sendiri dan Tuhan. Sekarang, jadi ada tiga orang yang tahu. Orang ketiga ini adalah Rheza. Hahaha.

Akhirnya dia tahu salah satu tindakan gila gue. Nggak perlu gue ceritain kali ya rahasia gue di sini. Tapi, ini berhubungan dengan tulisan, orang yang gue suka, dan otak gue yang gila.

Continue reading

Behind The Scene of Wedding Rush – Ghina: Nggak Biasa Bikin Lagu Cinta.

Halo! Udah lama banget nggak mampir di blog ini. Hehehe. Sorry, kesibukan akhir-akhir ini meningkat drastis. 😦

Nah, sesuai judul di atas, kali ini gue mau bagi-bagi cerita tentang behind the scene dari novel kesepuluh gue yang berjudul Wedding Rush. Selain proses penulisan, ada berbagai hal yang dikerjakan oleh teman-teman gue untuk Wedding Rush. Penasaran? Tenang, rangkaian cerita gue tentang BTS ini akan terus bergulir sampai narasumbernya habis. :p

***

Lo semua udah denger lagu “Bukan Takdirku” yang jadi original soundtrack dari Wedding Rush belum?

Continue reading

Kala Desember

Trying to forget someone you love is like trying to remember someone you never met.

***

Aku terlalu terkejut ketika jantung ini masih melonjak keras saat bertemu pandang lagi denganmu.

“Apa kabar?” tanyamu seraya menarik kursi di hadapanku dan duduk tenang di sana.

Aku hanya tersenyum, memainkan jemariku di tepian mulut cangkir sambil menjawab pelan, “Seburuk saat aku bertemu denganmu kembali.”

Continue reading

Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

Continue reading

Tentang Rindu

Looking-Back

 

 

Kau tak perlu mengatakannya.

Oh, aku pun tahu, kau tak akan mengatakannya. Sekeras apapun rindu itu menderamu. Hanya saja yang kau mesti ketahui walau tak bicara apapun padaku, aku merindukanmu. Layaknya pasir pantai yang rindu digerus ombak. Layaknya daun kering di jalanan yang dibawa angin kemana pun angin itu bertiup.

Kau tak perlu mengatakannya.

Aku tahu kalau dirimu tidak akan pernah balas mengucap rindu. Biarkan rindu ini menguap, menjadi sesuatu yang pernah ada, namun tak pernah dianggap ada oleh si penerima rindu.

Kadang aku berpikir, orang hebat seperti apa dirimu hingga diriku merindumu bagai orang gila. Namun aku tak menemukan jawabannya. Kau hanya lelaki biasa, serba biasa dengan hidup yang biasa. Kisah hidupmu tak sedramatis yang orang pikirkan. Kisah cintamu jauh dari kata berwarna.

Lalu apa yang membuatmu begitu kurindukan?

Tak ada, itulah jawabannya.

Karena rindu seringkali tanpa alasan. Rindu seringkali tanpa balasan.

Kau tahu, kadang merindumu ternyata sangat meletihkan. Aku berpikir, apa kalau dirimu membalas rinduku, letih ini akan menghilang?

Namun kurasa, rindu memang tidak akan pernah berbalas. Rindu hanya sekedar rindu.

Sebab rindu, hanya milikmu dengan perempuanmu. Bukan milikku si perempuan di sudut gelap relung hatimu.

Jadi Orang Muda dan Hidup Senang-Senang

Warning: Tulisan ini sangat menggurui layaknya dosen di kampus dan sangat belagu bin alay seperti senior yang pake tanktop ke kampus.

***

Baiklah, gue nggak tau kesambet apaan sampai nulis kayak begini. Mungkin efek dari matahari yang bersinar cerah saat gue nyuci baju dengan asoy geboy. #tsaah

Pernah denger kata hedon?

Secara singkat, kalau kata guru PLH gue dulu di SMA, hedon itu seperti… mengejar kesenangan duniawi. Iya, seneng-seneng gitu kalo nggak salah sih. CMIIW ya.

Ada beberapa orang yang baru kenal gue karena tulisan gue bilang, “Lo nulis terus ya? Kapan seneng-senengnya?”

Well, sebenernya gue pengen ketawa. Maafkan daku, soalnya pertanyaan itu berbanding terbalik dengan kenyataan, huehehehe.

Kalau orang yang udah kenal gue, justru mereka bingung, kapan lo nulisnya? Perasaan kerjaan lo keluar masuk mall terus.

*lalu ngakak*

***

Banyak orang yang lebih dewasa bilang ke gue, “Seumur kamu aku masih sibuk jalan-jalan dan pacaran. Tapi kamu udah bikin novel aja.”

Hehehe, baiklah, di sini gue akan bongkar aib gue mengenai hal ini.

 

Jadi anak muda—gue masih 18 tahun, oke?—adalah masa-masa yang menyenangkan. Ketika kita baru keluar dari “kandang” dan melihat dunia, wow, rasanya nggak pengen balik ke “kandang”. Maunya bebas! Jalan-jalan, nongkrong di sana, nongkrong di sini, nyobain tempat baru, kenalan sama temen baru, atau pacaran sama cowok yang bisa bikin kita melting walau cuma dirayu pake setangkai mawar seharga sepuluh ribu—oke ini bukan pengalaman gue, tapi… ya sudahlah.

Gue pun lagi ada di masa kejayaan seperti itu.

Tapi, apa yang bikin orang lain ngeliat gue “beda” sama remaja seusia gue lainnya?

Karena gue masih tetep nulis dan menghasilkan karya, hehehe.

Gue memang nulis, tapi bukan berarti gue nggak hang out dan gaul sana-sini. Di sini yang berperan banyak adalah kemampuan mengatur waktu, dompet dan multitasking, hahaha.

Orang-orang suka heran sama gue, gue kadang ‘terlalu’ multitasking. Gue bisa diajak ngobrol sambil ngetik ulang sebuah laporan atau buku dan terkadang jawab chat dari orang. Eh, itu bisa disebut multitasking nggak sih? Ah, apalah namanya. Tapi menurut yang pernah gue baca, 8 dari 10 perempuan memang multitasking dibanding laki-laki.

Dan soal waktu, kita punya 24 jam dalam sehari. Kata orang sih kurang, tapi ya menurut gue gimana lo ngaturnya aja.

Saat libur UN kemarin—kurang lebih 3-4 bulan kalau nggak salah—apa kerjaan gue?

Jalan-jalan, makan, nulis, tidur.

Iya, dalam seminggu bisa empat kali gue keluar rumah cuma untuk ke mall.

Terus nulisnya kapan?

Gue nulis pas udah pulang dari mall, di saat nunggu kereta, di saat nonton (pas lagi iklan gitu), dan kapanpun gue mau. Kita bisa dapetin apa yang kita mau, kalau kita emang usaha untuk itu.

Nyari idenya kapan?

Percayalah, pencarian ide bisa sangat mahal atau murah. Huahahahaha. Tapi sesungguhnya, ide itu nggak terbatas, nggak ada harganya karena dia lebih dari apapun. Kebiasaan gue adalah gue dapet ide saat lagi bersih-bersih. Silahkan tanya nyokap gue berapa kali gue ngelamun kalo lagi nyuci bareng dia. Huahaha.

Tapi, ngehedon ala gue juga mendatangkan ide.

Emang ngehedon ala Jenny kayak apa sih?

Yakin mau tau?

Gini ya, gue orangnya agak—ralat, SANGAT boros. Jadi ngehedon pun kadang nggak tanggung-tanggung.

Partner ngehedon gue biasanya adalah anak JU—Jomblo United. Lo pasti tau kan siapa aja? Ya Sarah, Puan, sama Icha. Hehehe. Mereka ini sohib paling asik buat diajak melarat ataupun ngehedon. Itulah yang namanya sohib, gurls! Nggak cuma ada pas lo ngajak ke salon doang, huahahaha.

IMG-20140126-WA0010

Tanyalah mereka tentang kebiasaan ngehedon gue, pasti mereka bakal geleng-geleng kepala sambil bilang, JANGAN DITIRU.

Gue kalau ke mall kerjanya kalo nggak mampir ke toko buku, makan, nonton, karaokean, photobox, beli DVD, beli aksesoris, beli baju favorit, beli sepatu, beli tas, dan segala macam aktivitas yang mengeluarkan duit sampai gue bangkrut di awal bulan.

Nyokap gue sendiri udah sampe elus dada adek gue saking berusaha sabarnya.

Nyokap malah pernah nyaranin untuk gue bikin garage sale. Kenapa? Karena barang-barang gue udah KEBANYAKAN.

Dulu pas masih sekolah, gue beli kardigan hampir setiap minggu. Lo mau yang bahan kaos sampe yang rajut? Ada. Mau warna gelap sampe warna neon? Ada.

Udah gitu, tas gue lebih dari sepuluh. Sepatu dari mulai flat shoes sampe wedges dan boots, pun ada. Parfum dari yang Bali Ratih sampe yang Guess pun ada.

Ih, boros banget ya?

Tapi ya itulah namanya hedon, kita senang-senang dengan hal duniawi. That’s me, salah satu bad habit yang belum hilang.

Kadang, kalau udah bosen dan masih bagus sih gue kasih atau jual. Tuh si Sarah, dia yang paling rajin beli make up kit gue. Hehehe.

 

Percayalah, orang yang lo kira kerjaannya ngerem di rumah ini, lebih suka The Body Shop dan NYX untuk ada di tasnya.

***

Kalau lo belanja terus, berarti minta duit ke nyokap terus dong?

Ugh, sayang sekali, pertanyaan anda meleset saudara-saudara. Nyokap pernah bilang, kalau kamu boros dan sukanya belanja, jangan jadi orang hemat. Tapi jadi orang yang bisa menghasilkan uang.

Jadi hemat itu susaaaah. Ujung-ujungnya kok ya jadi pelit sama diri sendiri? Huhuhu. Akhirnya gue ikutin saran nyokap.

Dari dulu, entah kenapa gue emang udah suka jualan. Pas SD aja gue udah suka jualan gelang sama aksesoris bikinan sendiri. Pas SMP gue jadi tukang ketik tugas buat temen-temen gue. Lumayan lho, dulu karena gue yang udah lebih mahir komputer dibanding temen-temen gue, jadinya apa-apa ke gue.

Koleksi novel gue yang udah lebih dari 200 itupun, didapat dari uang sendiri. :’D

Jadi pas SMP mulai tuh beli novel dari duit hasil jadi tukang ketik—yes, gue bangga kok dengan hal ini—awalnya cuma empat novel tuh. Terus gue sewain dengan tarif terjangkau. Lama-lama dari hasil penyewaan itu bisa beli yang baru. Dan akhirnya semua temen gue di satu angkatan kenal gue. Apalagi pas jamannya tugas review, semua panggil gue dengan embel-embel, “Jen, buku yang cocok buat di-review apa ya?”

Karena itu juga, gue jadi tukang review tersendiri bagi mereka. Ada yang nanya novel terbaru dan yang bagus apa. Ada juga tuh yang beli novel tapi dikasih ke gue dulu. Gue diminta baca dan kasih tanggapan. Lumayankan? Kadang hal itu kebawa kalau gue ke toko buku sama orang lain. Orang itu bakal nanya tentang buku  A, maka gue ceritain hal-hal yang gue tau. Hihihi. Berasa sales sih.

Pas SMA pun, gue pernah jualan Oriflame, Sophie Martin sampe Tupperware. Hahaha. Tapi itu cuma karena iseng, ada yang butuh ya gue bantu.

Pas SMA itu juga, gue sering jadi semacam personal stylist buat temen-temen gue. Ketika si A mau dateng ke birthday bash-nya si B, gue diajak keliling mall untuk bantu dia milih pakaian dan kawan-kawannya yang cocok sesuai dress code. Setelah itu? Lumayan, bisa beli dua novel lah :p

Atau ketika si C mau ngadain sweet seventeen tapi bingung mau venue-nya kayak apa. Gue ajak keliling Bogor untuk nyari tempat yang sesuai.

Ah, indahnya hidup kan…

Tapi jangan tanya deh seberapa borosnya gue. Lo bisa elus dada kalau masalah itu…

Masih pengen tahu?

Baiklah, ini saatnya aib dibongkar…

Gue kira, ngabisin 600 ribu untuk beli buku di Blok M adalah rekor gue. Tapi ternyata… gue bisa juga tuh ngehabisin satu juta dua ratus ribu dalam waktu kurang dari dua jam.

*hela napas*

Itu beli apa aja? *emot shock*

Banyak, hahaha. Baju, buku, tas, parfum favorit—sekali lagi, favorit gue Pamplemousse Grape-nya TBS, ya kali kan ada yang mau ngasih gue hadiah ultah, hihihi—dan segala macam hal penting-nggak-penting.

Dari mana tuh duitnya?

Dari penghasilan gue sendiri dong, hehehe. Alhamdulillah, buat ngehedon mah gue bisa nyari sendiri. Ya kali deh, gue juga nggak bakal ngehedon pake duit orangtua lah. Kerja bisa dua per tiga hari buat anaknya, masa iya gue hambur-hamburin buat beli parfum?

Sejauh ini, hasil royalti dari novel-novel gue ya gue pegang sendiri. Sebagian ada yang emang buat ngehedon, sebagiannya lagi buat bayar ini-itu untuk kebutuhan akademis gue. Makanya gue nggak terlalu pusing dengan acara ngehedon ini. Karena setelah ngehedon, gue dapet ide, terus nulis, ngirim naskah, kalau diterima nantinya di terbitin, setelah diterbitin dan syukur-syukur ada yang mau beli, dapet royalti lagi deh.

Kan nyokap gue udah bilang, kalau nggak bisa hemat ya harus menghasilkan uang lah. Hahaha.

Di sini gue nggak ngajarin lo semua yang baca ini untuk ngehedon bareng gue. Plz, cuma gue aja anak belagu macem ini, huahahaha.

 

Kita kan masih muda nih, kita masih bisa milih, mau jadi anak yang cuma tau “seneng-seneng” atau jadi anak yang bisa “seneng-seneng tapi menghasilkan”. Semua pilihan ada di tangan lo, tapi semua pilihan pasti punya akhir yang beda.

Gue pribadi, seneng jadi orang yang bisa have fun tapi tetap bisa menulis dan menghasilkan karya. Ya, jangan kita pikirin deh karya kita mau dicaci atau dipuji. Karya itu seni, dan seni itu masalah selera. Tiap orang punya selera sendiri seperti punya pilihan hidupnya sendiri.

Baiklah, segini aja dulu. Gue mau ngejar deadline yang jalannya cepet banget kayak dosen, huhuhu.

YOLO, bro! \m/

 

Salam,

 

Anak me(n)tal.