[Fragmen] Now and Forever

Fragmen 1 copy

[SEVA]

“Kamu selalu cantik dengan kebaya, Sev.”

“Kamu selalu gombal ya dari dulu,” ujarku. “Semoga anak kita nggak senarsis kamu.”

Ia tertawa riang. “Sayangnya harapanmu sepertinya nggak akan terkabul, Sev. Berdoa saja semoga kadarnya nggak lebih besar dariku.”

Tawanya menulariku. Entah hanya aku atau orang lain juga bisa melihatnya, setiap kali ia tertawa, wajahnya selalu tampak bersinar. Seolah-olah lelucon yang ia tertawakan memang mampu membahagiakannya.

Kemudian ia menggenggam tanganku dengan erat. Genggamannya kubalas sama eratnya. Jemarinya yang membawa rasa hangat di permukaan kulitku mengisi sela-sela jemariku dengan begitu pas. Kalau hari ini ia bilang aku cantik dengan kebayaku, maka aku takkan ragu untuk mengatakan bahwa ia tampan dengan setelan jasnya.

Sambil kami berjalan menuju keluargaku yang sedang bersenda gurau, Ren tersenyum ke sekitar. Sepertinya ia senang dengan dekorasi acara hari ini. Area outdoor resort yang terletak di Bogor ini memang sangat pas untuk resepsi sederhana seperti yang kuinginkan.

“Aku senang bisa berada di sini, Sev.” Ia berbisik di telingaku, supaya aku dapat mendengar jelas kata-katanya di balik ingar bingar pesta resepsi pernikahan ini.

“Aku juga senang kamu ada di sini, Ren. Senang sekali.”

“Terima kasih, karena telah menjadi jawaban dari doa-doaku di setiap malam.”

Aku tersenyum. Memang tak ada yang lebih membahagiakan dari menjadi jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan oleh seseorang di setiap malamnya.

***

Fragmen 2 copy

[SEVA]

Selain bertujuan untuk belanja, sepertinya di hari Minggu ini Ganis berniat untuk mengajakku jalan-jalan. Mungkin ia sudah lelah melihat aku yang selalu muram bahkan dari radius sepuluh meter.

Mobil matic Ganis melaju di jalan raya dengan kecepatan standar. Sesekali arus jalan raya tersendat karena para turis yang menyeberang dari satu toko souvenir ke toko lainnya.

Om Calvin memutuskan untuk tinggal di Uluwatu sejak menikah, membesarkan kedua anaknya sampai saat ini tanpa berniat untuk pindah ke Jakarta. Sekali pun dulu saat Ganis masih kecil, Ganis pernah merengek selama satu bulan untuk pindah ke Jakarta.

Jakarta ramai, nggak pernah tidur, Pa.

Kira-kira seperti itulah jawabannya. Om Calvin jelas saja menolak. Sampai akhirnya aku tahu ketika aku sudah beranjak besar, bahwa keputusan Om Calvin memang benar. Bali lebih menenteramkan dibanding Jakarta. Sekali pun aku masih semuram ini dan masih bermimpi buruk, tapi setidaknya aku tak harus menahan perih setiap kali diharuskan berada di Jakarta yang penuh kenanganku dengan Ren.

Ren lagi, Ren lagi.

“Kak Seva yakin mau pindah ke Balikpapan?”

Pertanyaan Ganis membuatku terkekeh. Masih dengan kepala yang bersandar pada jendela mobil, aku menjawab, “Kamu udah nanya lebih dari sepuluh kali lho, Ganis.”

Ganis hanya mengedikkan bahu. “Orang sana mungkin banyak banget yang mau pindah ke Jakarta, Kakak malah sebaliknya.”

“Jakarta itu … terlalu penuh dan ramai, Ganis.”

“Justru itu yang jadi alasanku mau pindah ke Jakarta,” gumam Ganis, sepertinya ia juga teringat saat ia dulu merengek ingin pindah ke Jakarta.

“Kalau Kakak penat di Jakarta, kenapa saat Kakak di sini Kakak nggak jalan-jalan?” tanya Ganis lagi. Sepertinya ia benar-benar ingin tahu. “Hampir dua minggu, Kakak cuma jalan-jalan ke pantai paling dekat dari rumah. Sisanya, ikut Papa ke ARTic sama di rumah aja.”

“Menghilangkan penat nggak harus hanya dengan wisata kok.”

Aku menegakkan tubuhku. Sebentar lagi kami sampai di supermarket yang paling sering dikunjungi oleh Ganis.

Pembicaraan kami terhenti sejenak, tapi hal itu membuatku memikirkan kembali pertanyaan Ganis.

Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah ditanyakan oleh Om Calvin, Tante Ghea, Tyo, Ganis, bahkan Mbak Asih, yang ikut denganku ke Balikpapan karena ia sudah tak punya siapa-siapa lagi.

Kalau aku jalan-jalan selayaknya turis, justru hal itu akan membuatku memiliki banyak waktu untuk memikirkan Ren. Daripada melakukan upaya ‘bunuh diri’ seperti itu, lebih baik aku belajar dengan Om Calvin di kantornya atau belajar memasak dengan Tante Ghea di rumah.

Kadang-kadang terpikir selintas olehku, betapa menyeramkannya ‘waktu’ yang kita miliki. Terkadang di saat kita sedang bahagia, waktu terasa sangat singkat dan kita akan selalu meminta lebih. Namun, di saat kita sedang sedih atau terluka, waktu seperti mengejek kita dengan memperlambat jalannya. Membuat kita justru makin melukai diri kita sendiri dengan waktu yang akhirnya kita gunakan untuk memikirkan dia, yang melukai kita tanpa berpikir dua kali.

***

Advertisements

Kala Desember

Trying to forget someone you love is like trying to remember someone you never met.

***

Aku terlalu terkejut ketika jantung ini masih melonjak keras saat bertemu pandang lagi denganmu.

“Apa kabar?” tanyamu seraya menarik kursi di hadapanku dan duduk tenang di sana.

Aku hanya tersenyum, memainkan jemariku di tepian mulut cangkir sambil menjawab pelan, “Seburuk saat aku bertemu denganmu kembali.”

Continue reading

Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

Continue reading

Tentang Rindu

Looking-Back

 

 

Kau tak perlu mengatakannya.

Oh, aku pun tahu, kau tak akan mengatakannya. Sekeras apapun rindu itu menderamu. Hanya saja yang kau mesti ketahui walau tak bicara apapun padaku, aku merindukanmu. Layaknya pasir pantai yang rindu digerus ombak. Layaknya daun kering di jalanan yang dibawa angin kemana pun angin itu bertiup.

Kau tak perlu mengatakannya.

Aku tahu kalau dirimu tidak akan pernah balas mengucap rindu. Biarkan rindu ini menguap, menjadi sesuatu yang pernah ada, namun tak pernah dianggap ada oleh si penerima rindu.

Kadang aku berpikir, orang hebat seperti apa dirimu hingga diriku merindumu bagai orang gila. Namun aku tak menemukan jawabannya. Kau hanya lelaki biasa, serba biasa dengan hidup yang biasa. Kisah hidupmu tak sedramatis yang orang pikirkan. Kisah cintamu jauh dari kata berwarna.

Lalu apa yang membuatmu begitu kurindukan?

Tak ada, itulah jawabannya.

Karena rindu seringkali tanpa alasan. Rindu seringkali tanpa balasan.

Kau tahu, kadang merindumu ternyata sangat meletihkan. Aku berpikir, apa kalau dirimu membalas rinduku, letih ini akan menghilang?

Namun kurasa, rindu memang tidak akan pernah berbalas. Rindu hanya sekedar rindu.

Sebab rindu, hanya milikmu dengan perempuanmu. Bukan milikku si perempuan di sudut gelap relung hatimu.