Kala Desember

Trying to forget someone you love is like trying to remember someone you never met.

***

Aku terlalu terkejut ketika jantung ini masih melonjak keras saat bertemu pandang lagi denganmu.

“Apa kabar?” tanyamu seraya menarik kursi di hadapanku dan duduk tenang di sana.

Aku hanya tersenyum, memainkan jemariku di tepian mulut cangkir sambil menjawab pelan, “Seburuk saat aku bertemu denganmu kembali.”

Continue reading

Advertisements

Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

Continue reading