Pemenang Giveaway Review Marathon “Wedding Rush”

Wedding Rush Banner

Heihooo!

Sebelumnya, aku mau minta maaf karena keterlambatan pengumuman ini. Dikarenakan sejak tanggal 28 Mei kemarin aku mudik dan baru pulang tanggal 3 Juni. Terus ada acara kencan sama lelaki-yang-membuatku-terjebak-friendzone-tak-berkesudahan heh, kok malah curhat. dan akhirnya kuotaku habis. T.T Jadi baru bisa posting sekarang, huhuhu.

Continue reading

Advertisements

[Giveaway] Review Marathon “Wedding Rush”

LM Wedding Rush copy

Anak kesepuluh! \m/

Dengarkan soundtrack dari Wedding Rush di sini: Bukan Takdirku

Halohaaa!

Akhirnya, sampailah kita di penghujung acara!

Eh, maksudnya, di penghujung Review Marathon Wedding Rush ini. Sebelumnya, aku mau ngucapin terima kasih dan kecup satu-satu para book blogger yang kece-kece ini; Kak Nana, Kak Opat, Kak Oky, Anggi, Mbak Kiky, Kak Dinoy, dan Kak Afin. Terima kasih! Tanpa kalian, review marathon ini nggak akan ada. *nangis terharu*

Continue reading

Behind The Scene of Wedding Rush – Ghina: Nggak Biasa Bikin Lagu Cinta.

Halo! Udah lama banget nggak mampir di blog ini. Hehehe. Sorry, kesibukan akhir-akhir ini meningkat drastis. 😦

Nah, sesuai judul di atas, kali ini gue mau bagi-bagi cerita tentang behind the scene dari novel kesepuluh gue yang berjudul Wedding Rush. Selain proses penulisan, ada berbagai hal yang dikerjakan oleh teman-teman gue untuk Wedding Rush. Penasaran? Tenang, rangkaian cerita gue tentang BTS ini akan terus bergulir sampai narasumbernya habis. :p

***

Lo semua udah denger lagu “Bukan Takdirku” yang jadi original soundtrack dari Wedding Rush belum?

Continue reading

Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

Continue reading