[Sneak Peek] Be My Forever

Halo!

Terima kasih sudah mengikuti Forever Series. Be My Forever merupakan buku ketiga dari rangkaian seri ini. Bercerita mengenai Neo dan Ilona. Semoga kalian menyukainya seperti aku yang menyukai setiap kata yang kutuliskan.

***

 

 

Be my forever copy

Ilona.

 

Seperti sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu.

Continue reading

Advertisements

[Fragmen] Now and Forever

Fragmen 1 copy

[SEVA]

“Kamu selalu cantik dengan kebaya, Sev.”

“Kamu selalu gombal ya dari dulu,” ujarku. “Semoga anak kita nggak senarsis kamu.”

Ia tertawa riang. “Sayangnya harapanmu sepertinya nggak akan terkabul, Sev. Berdoa saja semoga kadarnya nggak lebih besar dariku.”

Tawanya menulariku. Entah hanya aku atau orang lain juga bisa melihatnya, setiap kali ia tertawa, wajahnya selalu tampak bersinar. Seolah-olah lelucon yang ia tertawakan memang mampu membahagiakannya.

Kemudian ia menggenggam tanganku dengan erat. Genggamannya kubalas sama eratnya. Jemarinya yang membawa rasa hangat di permukaan kulitku mengisi sela-sela jemariku dengan begitu pas. Kalau hari ini ia bilang aku cantik dengan kebayaku, maka aku takkan ragu untuk mengatakan bahwa ia tampan dengan setelan jasnya.

Sambil kami berjalan menuju keluargaku yang sedang bersenda gurau, Ren tersenyum ke sekitar. Sepertinya ia senang dengan dekorasi acara hari ini. Area outdoor resort yang terletak di Bogor ini memang sangat pas untuk resepsi sederhana seperti yang kuinginkan.

“Aku senang bisa berada di sini, Sev.” Ia berbisik di telingaku, supaya aku dapat mendengar jelas kata-katanya di balik ingar bingar pesta resepsi pernikahan ini.

“Aku juga senang kamu ada di sini, Ren. Senang sekali.”

“Terima kasih, karena telah menjadi jawaban dari doa-doaku di setiap malam.”

Aku tersenyum. Memang tak ada yang lebih membahagiakan dari menjadi jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan oleh seseorang di setiap malamnya.

***

Fragmen 2 copy

[SEVA]

Selain bertujuan untuk belanja, sepertinya di hari Minggu ini Ganis berniat untuk mengajakku jalan-jalan. Mungkin ia sudah lelah melihat aku yang selalu muram bahkan dari radius sepuluh meter.

Mobil matic Ganis melaju di jalan raya dengan kecepatan standar. Sesekali arus jalan raya tersendat karena para turis yang menyeberang dari satu toko souvenir ke toko lainnya.

Om Calvin memutuskan untuk tinggal di Uluwatu sejak menikah, membesarkan kedua anaknya sampai saat ini tanpa berniat untuk pindah ke Jakarta. Sekali pun dulu saat Ganis masih kecil, Ganis pernah merengek selama satu bulan untuk pindah ke Jakarta.

Jakarta ramai, nggak pernah tidur, Pa.

Kira-kira seperti itulah jawabannya. Om Calvin jelas saja menolak. Sampai akhirnya aku tahu ketika aku sudah beranjak besar, bahwa keputusan Om Calvin memang benar. Bali lebih menenteramkan dibanding Jakarta. Sekali pun aku masih semuram ini dan masih bermimpi buruk, tapi setidaknya aku tak harus menahan perih setiap kali diharuskan berada di Jakarta yang penuh kenanganku dengan Ren.

Ren lagi, Ren lagi.

“Kak Seva yakin mau pindah ke Balikpapan?”

Pertanyaan Ganis membuatku terkekeh. Masih dengan kepala yang bersandar pada jendela mobil, aku menjawab, “Kamu udah nanya lebih dari sepuluh kali lho, Ganis.”

Ganis hanya mengedikkan bahu. “Orang sana mungkin banyak banget yang mau pindah ke Jakarta, Kakak malah sebaliknya.”

“Jakarta itu … terlalu penuh dan ramai, Ganis.”

“Justru itu yang jadi alasanku mau pindah ke Jakarta,” gumam Ganis, sepertinya ia juga teringat saat ia dulu merengek ingin pindah ke Jakarta.

“Kalau Kakak penat di Jakarta, kenapa saat Kakak di sini Kakak nggak jalan-jalan?” tanya Ganis lagi. Sepertinya ia benar-benar ingin tahu. “Hampir dua minggu, Kakak cuma jalan-jalan ke pantai paling dekat dari rumah. Sisanya, ikut Papa ke ARTic sama di rumah aja.”

“Menghilangkan penat nggak harus hanya dengan wisata kok.”

Aku menegakkan tubuhku. Sebentar lagi kami sampai di supermarket yang paling sering dikunjungi oleh Ganis.

Pembicaraan kami terhenti sejenak, tapi hal itu membuatku memikirkan kembali pertanyaan Ganis.

Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah ditanyakan oleh Om Calvin, Tante Ghea, Tyo, Ganis, bahkan Mbak Asih, yang ikut denganku ke Balikpapan karena ia sudah tak punya siapa-siapa lagi.

Kalau aku jalan-jalan selayaknya turis, justru hal itu akan membuatku memiliki banyak waktu untuk memikirkan Ren. Daripada melakukan upaya ‘bunuh diri’ seperti itu, lebih baik aku belajar dengan Om Calvin di kantornya atau belajar memasak dengan Tante Ghea di rumah.

Kadang-kadang terpikir selintas olehku, betapa menyeramkannya ‘waktu’ yang kita miliki. Terkadang di saat kita sedang bahagia, waktu terasa sangat singkat dan kita akan selalu meminta lebih. Namun, di saat kita sedang sedih atau terluka, waktu seperti mengejek kita dengan memperlambat jalannya. Membuat kita justru makin melukai diri kita sendiri dengan waktu yang akhirnya kita gunakan untuk memikirkan dia, yang melukai kita tanpa berpikir dua kali.

***

[Giveaway] Review Marathon “Wedding Rush”

LM Wedding Rush copy

Anak kesepuluh! \m/

Dengarkan soundtrack dari Wedding Rush di sini: Bukan Takdirku

Halohaaa!

Akhirnya, sampailah kita di penghujung acara!

Eh, maksudnya, di penghujung Review Marathon Wedding Rush ini. Sebelumnya, aku mau ngucapin terima kasih dan kecup satu-satu para book blogger yang kece-kece ini; Kak Nana, Kak Opat, Kak Oky, Anggi, Mbak Kiky, Kak Dinoy, dan Kak Afin. Terima kasih! Tanpa kalian, review marathon ini nggak akan ada. *nangis terharu*

Continue reading

Behind The Scene of Wedding Rush – Ghina: Nggak Biasa Bikin Lagu Cinta.

Halo! Udah lama banget nggak mampir di blog ini. Hehehe. Sorry, kesibukan akhir-akhir ini meningkat drastis. 😦

Nah, sesuai judul di atas, kali ini gue mau bagi-bagi cerita tentang behind the scene dari novel kesepuluh gue yang berjudul Wedding Rush. Selain proses penulisan, ada berbagai hal yang dikerjakan oleh teman-teman gue untuk Wedding Rush. Penasaran? Tenang, rangkaian cerita gue tentang BTS ini akan terus bergulir sampai narasumbernya habis. :p

***

Lo semua udah denger lagu “Bukan Takdirku” yang jadi original soundtrack dari Wedding Rush belum?

Continue reading

Come Back

“Pada akhirnya, lo milih balik ke Indo juga kan?”

Padma meringis, tanpa menatap mata sosok yang duduk di sampingnya kini pun ia tau, lelaki itu tengah tersenyum penuh kemenangan. “Gimanapun, gue kan juga mau dateng ke pernikahan sahabat gue.”

“Harusnya lo dateng sejak seminggu lo sampai di Jerman dan kerjaannya nangis meraung-raung,” timpal Sufi sambil mendecakkan lidahnya. “Lo harus tau segila apa Daka saat lo pergi diem-diem gini.”

Bandara selalu menjadi tempat menyenangkan bagi Padma. Namun saat ini tidak seperti itu di kala Sufi—teman satu UKM-nya dulu di kampus—sibuk memberinya wejangan. Kini mereka sedang menikmati makan siang selagi menunggu jam keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan mengingat dua kali transit dan lamanya berada di pesawat. Namun semua itu mereka tempuh hanya untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabat Padma, Rajata dan Resita.

“Kalau gue nggak pergi, mungkin kami berempat masih terjebak di kotak yang sama.”

Continue reading

Pacaran, pentingkah?

Baiklah, ketika gue nulis ini, bisa dipastikan kalau gue dalam keadaan sesadar-sadarnya. #plak

Well, entah kenapa akhir-akhir ini gue sering disodorin pertanyaan sejenis, “Kapan punya pacar? Nggak bosen ngejomblo mulu, woy?”

Dan dua hari yang lalu, salah seorang pembaca yang temenan sama gue di BBM, tiba-tiba nanyain hal serupa di tengah-tengah obrolan. “Jen, kok jomblo terus sih? Padahal kan cerita-cerita lo sweet gitu.”

Ini pertanyaan yang menohok hati saya, Jendral!

Hahaha.

Banyak orang yang bilang, karena keasyikan menulis gue jadi jomblo. Maksudnya nggak mau ngelirik cowok gitu.

Padahal, nggak begitu juga sih. Gue tetep ngelirik cowok kok, apalagi yang ganteng, gue pelototin. Kan pandangan pertama itu rejeki, nanti kalo kita ngedip dan jatohnya jadi pandangan kedua, jadinya dosa. #lha

Tanyalah temen-temen deket gue, mereka udah gue sodorin pertanyaan, “Kapan ya gue punya pacar?”. Huffft. Bahkan editor gue, Kak Afri, lebih parah lagi. Dia selalu menyindir-nyindir soal pacar. Dulu dia pernah bilang, “Kamu punya deadline sebulan buat cari pacar. Nanti kalau kita ketemu, kamu harus bawa pacar kamu.”

Aku rapopo kok, Mas. </3

Sebegitu pentingkah bagi gue untuk punya pacar?

Dulu, pas SMA gue pernah punya pacar. Lebih tepatnya dari tahun 2012-2013. Tapi entah kenapa, setelah satu tahun lebih lima bulan, gue ngerasa bosen. Iya, parah banget ya? Emang sih saat mau putus itu gue lagi deket sama cowok lain, tapi kalaupun gue nggak deket sama cowok itu, perasaan bosen itu juga masih ada.

Dan yang gue sesalkan adalah, entah karena pacaran, entah karena transisi dari SMP ke SMA (saat pacaran itu gue dari kelas 1 sampe kelas 2 SMA), atau entah karena kegiatan organisasi, gue nggak nulis apapun, nggak nulis sama sekali dalam setahun.

Bukan nulis PR atau tugas, maksudnya mengarang, ehehe. Pokoknya tahun itu gue serasa jadi pembaca, bukan penulis. Huuft, sedih. Soalnya kan gue dari dulu bertekad jadi penulis sejak muda. Iya, itu impian gue sejak gue umur 13 tahun.

Sejak umur 13 tahun, gue selalu bikin resolusi tahunan yang bakal ada tanda check saat resolusi itu tercapai. Jadi penulis dan ngeluar novel solo sebelum usia 17 tahun adalah resolusi yang nggak pernah ketinggalan.

Pas lagi galau-galaunya mikirin gebetan atau pacar, gue juga mikir, tahun itu (tahun 2012) udah mau berakhir. Januari gue udah ulang tahun, it means umur makin nambah. Kapan resolusi gue untuk ngeluarin novel sebelum 17 tahun bisa tercapai kalau setahun aja cerpen nggak ada yang berhasil ketulis sampai selesai?

Di tahun 2012 itu, seorang teman nawarin untuk ikut antologi. Tadinya mau dibikin indie, eh nggak nyangka ada penerbit major yang ngelirik dan mau nerbitin naskah itu. Akhirnya bikinlah gue cerpen, eh ditolak cerpen gue. Gue mikir, iya sih, cerpen yang gue sodorin itu nggak banget. Udah setahun nggak berhasil nulis apapun dan saat itu dikebut deadline. Matilah awak.

Tapi, pada akhirnya gue berhasil nulis. Karena gue lagi galau, gue tulislah kegalauan itu dibumbui fiksi. Jadilah cerpen yang di-acc sang editor! Hore!

Dan di awal 2013, gue akhirnya putus. Hore! Hore! Saat itu juga perasaan gue lega, mungkin emang belum saatnya gue untuk pacaran. Maka dari itu, karena ngeliat salah seorang temen gue berhasil masuk major, gue pun nyoba ngirimin naskah yang udah selesai dari jaman SMP ke penerbit yang sama.

Di tahun ini, kehidupan percintaan gue nggak mulus. Iya, tapi mau gimana lagi? Namanya juga hidup. Udah cukup setahun yang lalu gue ngerasain pacaran, jadi tahun ini pun gue cuma bisa ngerasain gimana rasanya memendam perasaan. Halaaaah. Tapi beruntungnya gue, novel yang gue kirim di-acc. Jadilah gue nerbitin novel sebelum umur 17 tahun! Resolusi gue tercapai, yeees!

Tuh kan, rejeki emang nggak kemana. Biarkan sang gebetan ke laut—well, dia emang ke laut kok—dan biarkan naskah gue masuk ke penerbit. Hahaha.

Mungkin juga karena nggak ada yang gue urusin di tahun itu, tahun 2013 gue adalah tahun yang sangat menguntungkan. Lima novel selesai dan dua di antaranya di-acc sama penerbit major. Mulai dari sana, gue belajar untuk lebih mengembangkan diri gue. Dibanding ngelirik cowok yang nggak ngelirik kita, mending kita bikin tulisan yang bisa dilirik penerbit kan? Hahaha.

Di 2013 ini gue udah kenal Wattpad. Empat novel yang selesai di tahun ini gue posting di Wattpad. Di tahun ini gue kenal sama temen-temen yang selalu support gue dan selalu jadi temen hedon gue. Oh my, kurang beruntung apa gue di tahun ini?

Tuhan punya rencana yang terbaik di antara yang terbaik buat setiap manusia kan?

Dan gue percaya itu.

Ketika akhir 2013 makin deket, gue mulai bikin resolusi untuk 2014 dan daftar hal-hal baik apa yang udah gue raih di 2013. Di 2013 itu, gue menang lomba cerpen di acara-nya PNJ. Terus naskah di-acc, masuk ke kampus yang sekarang jadi kampus gue, bisa dapet pengalaman di-interview sama KISI FM Bogor, dan masih banyak lagi. Mungkin putus dari pacar adalah hal yang bagus yang gue dapetin di tahun itu.

Percayalah, kisah cinta gue mungkin nggak semanis sama kisah cinta yang gue tulis. Toh nggak ada kewajiban untuk nulis sesuai pengalaman kan? Hahaha. Fyi, memutuskan pacar di perayaan sweet seventeen gue yang digagas temen-temen satu organisasi plus pacar gue itu, adalah rekor kejahatan gue. Wkakakakak.

Hidup terus berjalan kan? Ketika di 2013 ini gue malah “melahirkan” novel-novel gue, mantan pacar gue udah punya pacar baru dan sibuk tebar pesona sama cewek di sekitarnya.

So what? Hidup itu bukan cuma masalah berapa jumlah mantan yang berhasil di dapatkan seumur hidup kok.

Di awal 2014, gue dapet kejutan kalau novel gue yang lagi on going di Wattpad dilirik penerbit. Nah, di sinilah gue ketemu Kak Afri. Editor cantik, baik hati, tapi bisa sangat SADIIIIZ—iya pake Z, lebay emang, tapi emang gitu. #plak

Di 2014 ini, gue makin dibanjiri sama rejeki. Dua novel dan satu antologi cerpen keroyokan di-acc sama penerbit major. Dan gue juga publish tiga buku gue secara indie. Gue bisa launching buku gue sendiri :’)

Dan ketika orang-orang nanyain “Kapan punya pacar?” atau “Kok belum punya pacar?”, gue keinget kalau gue nggak nyantumin Punya pacar di resolusi gue tahun ini.

Yan ada di resolusi gue itu ya cuma tentang karier (cieee bahasanya!), akademik dan pendewasaan sifat. Itu aja. Kalau tentang relationship, gue cuma nulis, Single or taken? Dunno.

Hahaha, karena dari awal tahun pun nggak berharap banyak dengan kisah percintaan gue. #eaa Yang penting mah sekarang kuliah aja deh dulu sama kembangin nulisnya lagi.

Setidaknya, kalau beberapa tahun ke depan gue tetep jomblo, gue punya beberapa hal yang bisa dibanggakan selain status kejombloan gue. Iya nggak? Wkakakakakak.

Ngeluarin novel solo bisa dibanggain kan? Walaupun nggak ada yang beli sekalipun, setidaknya gue udah maju satu langkah dari orang-orang yang belum berani nulis. Hohoho.

Jadi… apa gue bakal nulis resolusi punya pacar untuk tahun depan?

Rasanya nggak.

[COMING SOON] “Phobia” – Yang kau takuti adalah apa yang kau cintai.

Phobia.
“Yang kau takuti adalah apa yang kau cintai…”

Phobia[2] copy

Penulis:

Assrianti (Penulis novel “Black Confetti”),

Catz Link Tristan (Penulis novel “Labirin” dan “Gerimis Bumi”),

Jenny Thalia Faurine (Penulis novel “Playboy’s Tale” dan “Unplanned Love”),

Mayya Adnan (Penulis novel “Proposal Of Love”),

Merry Maeta Sari (Penulis novel “Serendipity”, “Cinta Rasa Mie Instan”, dan “A Wedding After Story”),

Nima Mumtaz (Penulis novel “Cinta Masa Lalu” dan “Akulah Arjuna”), dan

Paramita Swasti Buwana (Penulis novel “Serendipity”).

Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 25 November 2014
Harga: Rp.44.800

Aku tidak pernah menduga, menjadi jujur dan menerima semua kekuranganku adalah jalan terbaik untuk melepas phobia ini.
Kehidupan memang tidak sempurna.
Tidak selalu sesuai keinginan kita.
Tak perlu takut menjadi tak sempurna.
Karena cinta akan mengubah kekurangan menjadi keindahan.

Phobia. Yang kau takuti adalah apa yang kau cintai…

[Nonton Yuk!] Strawberry Surprise

141084774966470_300x430

Jenis Film : Drama
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Produksi : Starvision
Sutradara : Hanny R Saputra

Casts: Acha Septriasa, Reza Rahadian, Olivia Jensen

5 tahun yang lalu, Aggi (Acha Septriasa) dan Timur (Reza Rahadian) berpisah. Aggi memutuskan hubungan mereka. Timur, seorang fotografer di Bandung, sedangkan Aggi tinggal dan bekerja sebagai kurator galeri foto di Yogyakarta. Aggi lalu meminta Timur menemuinya 5 tahun lagi. Jika mereka masih sendiri, mungkin mereka memang harus bersama.
5 tahun kemudian, Timur menagih janji Aggi. Ia berangkat ke Yogyakarta, dan ternyata Aggi memang masih sendiri. Tapi, Aggi memberi syarat, Timur harus datang ke Yogyakarta setiap minggu dan mendengarkan cerita-cerita kegagalan cinta Aggi setelah dengan Timur.
Di tengah kesibukan pekerjaannya, Timur mendatangi Aggi setiap minggu, dan dengan sabar mendengarkan cerita Aggi. Mereka jadi dekat lagi. Timur semakin yakin bahwa ia memang mencintai Aggi, gadis penggila buah stroberi, yang selalu bersikap tak terduga.
Namun, di tengah mereka ada Inda (Olivia Jensen), gadis manis mantan pacar Timur. Inda masih sangat mengharapkan cinta Timur. Inda adalah kebalikan Aggi. Aggi begitu spontan dan meledak-ledak, sedangkan Inda sangat lembut dan selalu bersikap hati-hati. Inda ada di Bandung, dekat sekali dengan Timur. Sedangkan Aggi di Yogyakarta, dan tak bersedia pindah dari sana. Inda begitu penuh perhatian pada Timur, sedangkan Aggi memaksa Timur hadir di Yogyakarta setiap minggu dan mendengarkan curahan hatinya.
Mirisnya, setelah semua upaya yang dilakukan Timur, Aggi masih juga belum yakin padanya. Kebingungan Aggi memuncak ketika Inda mendatanginya, hanya sehari sebelum pernikahan Aggi dan Timur. Inda berkata, Kamu tahu? Timur bahkan nggak suka makan stroberi….
***

Jadi, sebenernya udah pengen banget nonton film ini dari lama. Waktu itu juga udah dapet undangan premiere-nya. Cumaaaa, karena sendirian dan besoknya ada kuliah, jadi nggak jadi deh. 😦

IMG_20141002_184118

Pas hari Senin ini, masih dengan badan yang babak belur pasca dari Bandung, gue pengen nonton Strawberry Surprise. Ngajak siapa ya? Pas lagi di kelas gue duduk sama Devi, iseng deh ngomong, Dev, nonton yuk!

Dan ternyata dia juga pengen nonton! Asiiik, jodoh! Hahaha.

IMG_20141013_165007

Akhirnya, setelah urusan di kampus semuanya selesai, gue sama Devi cabut ke Detos. Karena adanya yang jam 5, jadilah kita nonton jam segitu. Sambil nungguin, kita makan dulu tuh di foodcourt sambil ngomong ngalor ngidul. Dari masalah cewek di kampus sampe masalah cinta gue yang nggak kenal ujung, huhuhu.

images (1)

Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.

Pas jam lima kurang, kita akhirnya masuk ke bioskopnya. Anjir, miris banget liat film negeri kita sendiri sepi penonton. 😦 Gue bukannya sok nasionalis nih, tapi kenapa ya kita kadang lebih suka sama barang dari luar ketimbang barang dari negeri sendiri? Apa nama sebuah negara menandakan semua kualitas produk negeri itu sama?

Pas gue nonton itu, kayaknya nggak nyampe setengahnya tu bioskop keisi deh. Hffft.

Ya sudahlah, balik lagi ke ceritanya.

Kenapa sih gue ngebet banget nonton film ini?

  1. Sinopsisnya. Itu KEREN banget.
  2. Ini diadaptasi dari novel!

Walaupun gue belum pernah baca novelnya, tapi gue tetep penasaran aja sih. Entah kenapa ya, setiap film yang diadaptasi dari sebuah novel, selalu bikin gue penasaran. Hohoho.

Dan filmnya keren sih! Anjir, Reza Rahadian cocok banget jadi si Timur! Pembawaannya itu lho, bikin meleleh. Wkwkwkwk. Gue juga berhasil sebel sama Aggi, karena dia kadang terlalu takut untuk dikecewain. Padahal Timur udah sebegitunya. Ups, harusnya gue sadar, gue juga orang yang kayak gitu. Hohoho.


images (3)

images (4)

Film ini bagus, apalagi ada lumayan banyak bagian flashback-nya. Di mana kita jadi bisa ngeliat gimana Aggi-Timur versi dulu dan versi sekarang. Yang pastinya ada perubahan dan pendewasaan sifatnya masing-masing. Gue suka tentang teori kehidupan seperti strawberry-nya Aggi. Kebetulan gue suka banget makan strawberry<-ini info nggak penting.

images (2)

Overall, gue sama Devi puas banget nonton film ini. Walaupun kita jomblo, film ini ngajarin kita tentang komitmen dan kepercayaan yang harus dipegang teguh saat berhubungan—apalagi LDR-an. Ya walaupun, gue juga nggak tau mau LDR-an sama siapa, wkwkwk.

Semoga film ini bisa menunjukkan kualitasnya sama orang-orang dan nggak bakal kalah sama film asing lainnya!

downloadfile

Lelah

Pernah nggak sih, ngerasain capek yang teramat capek?

Yang bikin lo mau rehat seminggu misalnya.

.Eye-Candy

Sekarang gue lagi ngalamin hal itu. Hhhh. *hela napas*

Rutinitas kampus yang makin lama makin bikin sesek napas, project tiap mata kuliah yang bikin pengen makan orang, rapat panitia yang berasa dimamam senior, sampe tentang capeknya gue dan kadang udah tepar duluan sebelum bisa nulis.

Itu semua lama kelamaan bikin gue jenuh, capek. Mungkin ini efek dari bebasnya gue beberapa bulan yang lalu. Kelamaan bebas jadi binal deh gue, hehehe.

Continue reading